Diantara Husainisme dan Yazidisme: Menemukan Diri di Tengah Arus Zaman

Imam Husain hidup dalam dua ketegangan: kekecewaan batin terhadap masyarakat yang tidak berani membela, meski telah mengetahui siapa dia. Cinta dan harapan yang tak pernah padam bahwa suatu saat umat akan sadar dan menangisi pengkhianatan mereka terhadap kebenaran.

Maka, ketika beliau sesak melihat masyarakat yang tidak membela, ia tidak membenci mereka, tapi menyayangkan mereka karena memilih selamat secara lahir, namun celaka secara ruhani. Inilah ciri khas kepemimpinan maksum: tidak dendam kepada umat yang mengkhianati, tapi tetap membawa mereka dalam doa dan dakwah. Imam Husain tidak menyayangkan karena dirinya tak terbela, tapi karena umat itu sendiri yang gagal menyelamatkan jiwanya dari kehinaan.

Dalam pesan yang disampaikan kepada Imam Ali Zainal Abidin as, Imam Husain as ingin agar umat Islam tidak melupakan kebenaran yang dibantai. Ia tidak minta dibela secara fisik, tapi dikenang dalam kesadaran moral dan spiritual. Dengan mengatakan, “Ingatlah aku saat kalian meminum air, aku yang kehausan,” Imam membangun hubungan batin antara syahadah dan kehidupan sehari-hari umat. Air adalah simbol kehidupan. Imam mengaitkan darah dan hausnya dengan kesadaran manusia atas sumber hidup yang sejati, yaitu kesetiaan pada kebenaran Ilahi.

Para pengikut yang tidak ikut serta ke Karbala, baik karena takut, ragu, atau tidak paham pentingnya momen itu. Mereka secara moral bertanggung jawab, meski tidak hadir secara fisik. Namun semua orang yang mengklaim mencintai kebenaran, maka mereka bukan saja yang hanya berpenduduk Madinah secara geografis, akan tapi semua umat yang masih hidup setelah tragedi itu termasuk kita hari ini.

Imam tidak menolak umat meski mereka mengecewakan. Ia masih menyebut mereka sebagai pengikut, bukan karena mereka telah berhasil membela, tapi karena ia memberi mereka kesempatan kedua untuk menjadi pengikut sejati. Bukan dalam bentuk dukungan fisik, tapi dalam bentuk penyesalan, air mata dan kebangkitan moral. Menangisi syahadah Imam bukan sekadar ritual, tapi bentuk pembaruan ikrar untuk hidup dalam kebenaran. Imam menyebut mereka pengikut karena ia masih membuka ruang taubat dan cinta bagi umatnya, yang meski gagal hadir di Karbala, bisa hadir di arus sejarah Karbala dengan kesadaran.

Imam Husain hidup dalam kompleksitas ruhani sebagai pemimpin. Menyayangkan pengkhianatan umat, tapi tidak memutus cinta pada mereka. Mengutuk kebatilan, tapi tidak membenci manusia yang terperangkap dalam kebodohan. Menjadi korban sejarah, tapi sekaligus pencipta kesadaran sejarah. Pesan kepada Ali Zainal Abidin as adalah jembatan antara peristiwa dan umat, antara syahadah dan kehidupan. Imam Husain tidak meminta pengikutnya menebus masa lalu dengan pedang, tapi dengan air mata, ketulusan, dan komitmen moral untuk tidak mengulangi Karbala di zaman lain.

Saya pengikut Imam Husein yang mana? Apakah pengikut yang datang terlambat secara fisik, tapi ingin hadir secara ruhani? Kita tidak hidup di masa Yazid, tapi kita hidup di masa yang penuh kebungkaman, penindasan, pengkhianatan nilai. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa memilih berpihak hari ini. Apakah pengikut yang belum sempurna, tapi ingin menebus keterlambatan dengan kesetiaan? Kita bukan Zainab, tapi bisa memikul pesan keberanian dan kesabaran. Apakah pengikut yang menangis, tapi tidak ingin hanya menangis? Imam tidak mengharamkan tangisan. Tapi menangis yang membangkitkan, bukan menangis yang membius.

Ketika Imam Husain mengatakan, “ingatlah aku setiap kali kalian meminum air…,” apakah Imam menyapaku? dan setiap jiwa yang mencoba hidup dengan kesadaran bahwa, air kehidupan harus dijaga dengan kebenaran. Kehidupan yang tidak disambungkan pada kebenaran Husaini adalah kehidupan yang palsu dan rapuh. Air mata dan kesadaran adalah cara kita menjawab panggilan Imam, walau terlambat.

Setiap zaman punya Yazid dan Husain-nya. Setiap diri bisa menjadi penonton, pengkhianat atau pewaris cahaya. Maka pertanyaannya bukan hanya: “Saya pengikut Imam Husain yang mana?” Tapi “Apa yang akan saya lakukan sekarang, agar kelak saya bisa berdiri di barisan Imam, walau datang dari lorong sejarah yang jauh?

Windari, S.Ag

Santriwati Takhasus RCF-RCRF 2025

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *