Refleksi SESI 1 Kelas Falsafatuna
Setiap manusia sejak lahir selalu berhubungan dengan pengetahuan; baik melalui pengalaman, pengamatan, maupun pemikiran. Pembahasan tentang sumber pengetahuan dalam istilah filsafat dikenal sebagai epistemologi.
Epistemologi merupakan dasar penting bagi manusia untuk membedakan benar dan salah sesuatu. Selain itu, epistemologi pun menjadi dasar memahami nilai sesuatu yang diketahui manusia.
Tanpa Epstemologj, manusia akan megalami kesulitan untuk menata dan membangun pengetahuan di dalam pikirannya.
Pengetahuan manusia tidaklah muncul begitu saja, melainkan ia saling berkaitan antara pengetahuan yang baru lahir dengan yang lama. Tidak hanya itu, pengetahuan yang mulanya sederhana mampu mengalamj pengembangan menjadi lebih kompleks.
Sebagai pijakan awal, munculnya pengetahuan dalam pikiran manusia menimbulkan sebuah rentetan pertanyaan;
bagaimana manusia bisa mengetahui sesuatu? bagaimana cara kerja akal manusia? Dan dari mana sumber pengetahuan manusia?
Melalui Rangkaian pertanyaan itu, kita bisa menarik benang merah perihal pengetahuan manusia yang terbentuk dengan proses tahapan. Pengetahuan dilihat sebagai proses dalam menyusun hidup manusia.
Pertanyaan pertama, bagaimana proses tahapan kita mengetahui sesuatu?
Manusia mengenali sesuatu pertama kali melalui proses pengindraan. Misalnya, lidah kita merasakan rasa bumbu dan hidung kita mencium aroma makanan di pondok.
Kemudian, melalui informasi yang kita peroleh, akal melakukan proses tahapan selanjutnya untuk menyimpulkan terkait masakan pondok itu enak atau tidak.
Timbul pertanyaan lanjutan , bagaimana pengetahuan itu membentuk struktur intelektual manusia?
Kembali ke contoh masakan pondok, kita baru pertama kali merasakan makanan yang berbeda. Tidak seperti umumnya di luar pondok, makanan dibuat menggunakan penyedap micin.
Namun, saat di dalam pondok, kita mengenali pengetahuan baru mengenai makanan tanpa micin dengan bumbu sederhana, bahkan kadang terasa hambar.
Kemudian Akal mulai menyusun pola; ia mengenali perbedaan antara makanan berbumbu penyedap lengkap dan makanan sederhana tanpa penyedap. Akal kita pun memahami perihal rasa enak bukanlah sesuatu yang mutlak.
Pengetahuan inderawi mengalami perubahan menjadi pemahaman konseptual. Rasa enak atau tidaknya dikembalikan pada tolak ukur konsep yang digunakan manusia.
Kemudian, akal kita menyadari pola struktur pengetahuan perihal tolak ukur nilai makanan pondok. Melalui terbiasa dengan makanan pondok, kita mengetahui bahwa “tidak semua enak itu sehat, dan tidak semua hambar itu buruk.”
Persoalan terakhir, bagaimana struktur intelektual membentuk sistem pengetahuan manusia yang realis?
Melalui pola struktur pengetahuan itu melahirkan sistem pengetahuan yang realis: Kita mulai bisa menilai makanan bukan hanya dari rasa, tapi juga dari gizi, kesederhanaan, dan manfaatnya bagi tubuh.
Pengetahuan sederhana tentang rasa akhirnya berkembang menjadi cara pandang baru terhadap pola makan dan kesehatan.
Jadi, dari contoh sederhana ini “makan dengan atau tanpa micin”, kita bisa melihat perjalanan pengetahuan: mulai dari sekadar merasakan makanan melalui indra, berubah menjadi pemahaman akal kita mengenai makanan yanh sehat, kemudian, struktur atau pola itu menjadi sistem berkehidupan yang nyata tentang perilaku hidup sehat
Yunianti, S. P
Santriwati Kelas Falsafatuna 100 sesi 2025-2026
(PPM Muthahhari Yogyakarta)





