Epistemologi Plato Tentang Asal-usul Konsep

Reflesi Sesi 3 Kelas Falsafatuna

Pada sesi sebelumnya, persoalan sumber pengetahuan antara alam dan rasio menciptakan kegelisahan tersendiri. Sesi kali ini mencoba menjawab kegelisahan itu dengan cara membedakan antara sumber terjadinya konsep dan sumber utama konsep.

Sumber terjadinya konsep merupakan faktor pemantik yang membentuk kehadiran suatu gambaran dalam benak kita. Faktor itu menjadi syarat kemunculan konsep dari sumber asas utamanya, yaitu alam.

Dalam hal ini, kita mengatakan alam sebagai sumber pemantik terjadinya konsep. Tanpa berelasi dengan alam, konsep tak akan hadir dalam benak. Karakteristik konsep di benak kita menjadi persoalan panjang untuk diulik. Banyak cara pandang melihat berbagai teori pengetahuan.

Kita akan mencoba memahami Teori Plato perihal bagaimana pengetahuan manusia itu terbentuk. Jika saya memposisikan diri sebagai Plato, cara saya memperoleh pengetahuan dilakukan dengan mengingat kembali melalui pantikan alam sebagai landasan.

Saya harus berelasi dengan alam agar diingatkan mengenai pengetahuan tertentu. Tanpa relasi alam, saya tidak akan bisa memahami sesuatu. Hasil relasi tersebut membuat kita mengingat sesuatu dan memunculkan kesadaran tertentu.

Biasanya, saya tak akan mengingat orang tua tanpa mereka lebih dulu mengabari. Namun, tiba-tiba saya melihat barang pemberian orang tuaku membuat saya mengingat orangtuaku. Dalam hal ini, butuh suatu pantikan barang pemberian untuk bisa mengingat konsep orang tua.

Artinya, konsep orangtua itu sudah ada sebelum melihat barang pemberian mereke di alam. Dalam kehidupan sehari-hari, selama 24 jam kita tidak mengingat sesuatu terus-menerus.

Kesadaran kita selalu beralih mengingat suatu objek ke objek lainnya. Setiap peralihan itu diperlu pantikan objek pengingat yang menyadarkan kita atas pengetahuan atau konsep tersebut.

Dalam Teori Plato, tubuh manusia menjadi sebab cara pandang manusia menjadi terbatas pada hal partikular. Misalnya, mata saya hanya mampu melihat sejauh objek yang terjangkau, telinga saya hanya mendengar suara yang mampu dijangkau.

Keterbatasan itu menjadi alasan Teori Plato memandang manusia tidak akan mendapatkan pengetahuan yang sempurna saat jiwanya masih di dalam tubuh fisik. Tubuh manusia dinilai memberikan batasan pengetahuan. Ketika jiwa terlepas dari tubuh maka cara pandangnya menjadi luas dan sempurna.

Lantas, dari mana sumber konsep?

Dalam teori inj, pengetahuan dalam benak saya hadir melalui proses pengingatan kembali lewat pantikan alam. Artinya, sumber konsep bukan diambil dari alam secara langsung. Alam fisik hanya menjadi pemantik mengingat suatu sumber konsep di alam lain, disebut sebagai Alam Arketipe (alam ide).

Pengetahuan yang saya ingat kembali dari sumber alam arketipe dinilai sudah ada sebelum saya berelasi dengan alam fisik. Dalam hal ini, cara mengetahui ala plato dilakukan dengan pendekatan praktis.

Semakin banyak pengalaman yang saya dapatkan, maka semakin banyak pengetahuan yang saya miliki. Begitupun, semakin sedikit pengalaman di alam membuat semakin sedikit pula pengetahuan yang saya ingat.

Dalam hal ini, pengetahuan yang saya ingat memiliki asas sebelumnya di Arketipe. Saat itu, jiwa telah memiliki persepsi universal, namun menjadi persepsi partikular disebabkan jiwa berelasi dengan tubuh.

Misalnya, konsep putih sebagaimana putih merupakan konsep universal yang sudah ada sebelumnya di arketipe. Ketika jiwa berelasi dengan alam, konsep universal putih itu kita bisa letakan pada putih sesuatu yang partikular; putih pada baju, putih pada papan tulus, putih pada jilbab dan seterusnya.

Contoh lain; konsep manusia, dimana konsep manusia sebagaimana manusia sudah ada sebelumnya di alam arketipe. Namun, ketika berelasi dengan alam yang kita lihat manusia terletak pada tubuhnya, kulitnya, dan bagian tubuh fisik lainnya.

Pengetahuan pada Teori Plato merupakan pengetahuan praktis. Maksudnya, fungsi mengingat kembali melalui alam merupakan pemantik landasan refleksi pikiran manusia untuk menyadari sesuatu. Sedangkan, pengetahuan teoritis universal telah bersemayam pada jiwa saat belum berelasi dengan tubuh fisik.

Asrina S.Pd

Santriwati Kelas Falsafatuna 100 sesi 2025-206

(PPM Muthahari Yogyakarta)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *