Refleksi Sesi 4 Falsafatuna
Arkektipe (alam ide) yang jauh telah ada lebih dahulu dibandingkan alam materil. Pengetahuan- pengetahuan universal (bersifat abstrak) pada jiwa yang dilupakan karena adanya pertemuan antara jiwa dan tubuh dialam materil (Lahir ke dunia). Karena itu, bagi Plato proses belajar sebenarnya hanyalah upaya untuk mengingat kembali pengetahuan yang telah hilang dari jiwa dan ini menjadi dasar struktur teori plato.
Pemikiran ini menjadi titik awal kritik dari Baqir Shadr. Beliau menilai dua dasar utama dari teori Plato tidak tepat. Pertama, jiwa tidak lebih dahulu ada dibandingkan tubuh. Kedua, jiwa bukan sesuatu yang berdiri terpisah dari materi.
Menurut Baqir Shadr, pandangan Plato yang memisahkan antara alam ide dan alam materil justru menimbulkan banyak persoalan terutama tentang bagaimana hubungan antara jiwa dan tubuh bisa terbentuk, dan mengapa penyatuan keduanya menyebabkan keterlupaan.
Dari hal ini kemudian membawa saya pada pemahaman baru tentang hubungan antara tubuh dan jiwa. Keduanya tidak lagi dipandang sebagai dua hal yang bertentangan, tetapi sebagai satu kesatuan yang bergerak menuju arah yang sama yaitu menuju pada penyempurnaan.
Tubuh adalah tempat bagi jiwa untuk tumbuh, sementara jiwa memberi arah dan makna bagi keberadaan tubuh. Dengan demikian, saya mengasumsikan bahwa kehidupan manusia harusnya bukanlah perbedaan antara jiwa dan materi, tetapi sebuah bentuk proses penyatuan.
Oleh karena itu, dari hal ini pemikiran Baqir Shadr terasa lebih masuk akal dan realistis dibanding pandangan Plato. Disebabkan karena Plato tidak menjelaskan bagaimana sesuatu yang berasal dari alam ide bisa berinteraksi dengan alam materil. Sementara Baqir Shadr justru menempatkan keduanya dalam satu rangkaian yg terus berlanjut.
Dengan ini saya memahami bahwa manusia menjadi makhluk yang berpengetahuan bukan karena adanya pengetahuan langsung dari luar dirinya yang terpisah, tetapi harusnya ini karena ia berhasil mengaktualkan daya potensi yang ada di dalam dirinya.
Dengan demikian, pengetahuan kita terhadap sesuatu tidaklah terletak pada asalnya dari alam ide, tetapi pada kemampuannya untuk terus bergerak, tumbuh, dan menyempurnakan diri dari dalam realitas yang objektif.
Nahira
Santriwati Kelas Falsafatuna 100 Sesi 2025-2026
(PPM Muthahhari Yogyakarta)





