Kritik Baqir Sadr Terhadap Ide Bawaan Descartes dan Kategori Kant

Refleksi Sesi 6 Falsafatuna

Pada pembahasan sesi sebelumnya mengenai konsep Descartes dan Kant, kedua tokoh ini memilki persamaan dan perbedaan perihal sumber konsep pengetahuan. Mereka membagi Konsep menjadi 2 Sumber; Alam dan Rasio.

Descartes percaya bahwa konsep yang dinilai kebenarannya itu bersumber dari ide bawaan sebelum lahir. Ide bawaaan yang ditanamkan oleh tuhan itu menurut Descartes bersifat universal, jelas, dan pasti. Sedengkan, pengalaman indra hanya melahirkan konsep yang diragukan kebenarannya. Dengan alasan, perubahan alam yang terus-menerus tanpa kepastian mutlak.

Dalam hal ini, Descartes menyimpulkan bahwa manusia itu bisa mengetahui hakikat kebenaran karena akal itu sudah memliki ide bawaan di dalam dirinya tentang kebenaran itu sendiri. Sementara itu, Kant memiliki karakter yang mirip tapi berbeda. Kebenaran suatu pengetahuan bergantung pada kesesuaiannya dengan 12 kategori yang diyakini telah ada dalam diri manusia.

Kemudian, melalui kategori itu kerja akal berfungsi memberi bentuk pada pengalaman manusia. Artinya ide atau pengetahuan itu dibangun berdasarkan sintesis pengalaman dan 12 kategori.

Menurut Baqir Sadr, pengetahuan apapun, termasuk ide bawaan, bukanlah sesuatu yang bisa terpisah dalam pikiran sehingga murni berdiri sendiri kehilangan pijakan pengalaman sebagai titik berangkat epistemologi. Bila pengetahuan dianggap murni dari jiwa, maka pengetahuan itu menjadi terputus dari realitas dan bermakna subjektif tanpa adanya kepastian kebenaran objektifnya.

Baqir Sadr melihat kebenaran sejatinya hanya bisa terjadi saat ide dalam akal sesuai dengan realitas Objektif. Dalam ha ini, peran akal hanya sebagai alat, dan bukan sumber mutlak kebenaran, seperti yang dinilai Descartes perihal ide bawaan.

Sementara itu, Baqir Sadr melihat ada indikasi upaya Kant mencoba memperbaiki kelemahan Descartes dengan menyatukan rasio dan pengalaman.

Akan tetapi, Kant justru membatasi pengetahuan manusia pada fenomena perihal materi sebagaimana yang tampak dalam kesadaran indra manusia. Namun, menolak potensi akal dalam mengenal noumena atau realitas sejati di luar kesadaran manusia.

Dalam hal ini, Baqir Sadr menganggap teori Kant terjebak dalam subjektivisme, dengan mengatakan bahwa manusia hanya mengenal fenomena sehingga pengetahuan itu hanaya sekedar hasil konstruksi akal dalam 12 kategorinya, bukan cerminan realitas. Pandangan Sadr menilai teori Kant tidak akan mampu mengenal kesejatian realitas. Sebab, Kant menganggap kebenaran itu sesuatu yang relatif.

Agus, S.I.Kom

Santri Kelas Falsafatuna 100 sesi 2025-2026

(PPM Muthahhari Yogyakarta)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *