Alam Ide dan Kritik Otoritas Epistemologi

Refleksi Sesi 4 falsafatuna


Asumsi Teori Platon mengenai eksistensi jiwa mendahului tubuh manusia, menyisakan sejumlah pertanyaan kritis:

Mengapa jiwa harus masuk ke dalam tubuh fisik? Mengapa ia mesti turun ke dunia materi yang justru membuatnya lupa, sementara pada saat yang sama ia memerlukan dunia ini untuk membangkitkan kembali ingatan atas kebenaran?

Pertanyaan ini membawa kita pada kritik Baqir Sadr perihal kelemahan logis dalam sistem pengetahuan Plato. Kemahnya kelogisan sistem itu membuat pengetahuan dibentuk bukan hasil hubungan subjek dan objek, melainkan sekadar pengingatan kembali atas sesuatu yang telah ada dalam jiwa.

Sistem pengingatan kembali Plato justru meniadakan makna proses mengetahui sesuatu dalam tahapan epistemologi. Bila proses mengetahui hanya dilihat sebagai hasil mengingat kembali sesuatu yang telah diketahui, maka jiwa manusia sejatinya tak pernah mengetahui sesuatu yang baru, melainkan sekadar menyingkap lapisan keterlupaan.

Dengan demikian, pengetahuan kehilangan sifatnya dalam relasi aktif antara manusia dan realitas. Proses mengetahui bukan lagi usaha rasional untuk memahami eksternal, melainkan menjadi aktivitas internal yang terputus dari kenyataan objektif.

Sistem pengetahuan Baqir Sadr dibangun dari keterlibatan dua unsur: subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui. Keduanya membentuk hubungan ontologis yang nyata.

Dalam pandangan Plato, hubungan tersebu terputus disebabkan objek pengetahuan sejati berada di dunia ide (Arketipe). Sebuah dunia yang tidak terjangkau oleh pengalaman material (aktual) manusia.

Akibatnya, dunia materi yang kita huni dianggap sebagai bayangan yang tak layak menjadi sumber pengetahuan. Padahal, justru dalam realitas empiris, manusia menemukan hubungan rasional antara akal dan wujud, antara kesadaran dan eksistensi.

Selain itu, jiwa memperoleh konsep universal yang diturunkan alam ide menimbulkan pertanyaan eksistensial yang kontradiktif.

Bila jiwa bersifat sempurna, bagaimana mungkin ia bisa terpengaruh oleh materi yang bersifat tidak sempurna? Bagaimana sesuatu yang sempurna bisa kehilangan kesempurnaannya hanya karena berhubungan dengan materi yang tidak sempurna?

Dalam sistem pengetahuan Baqir Shadr, pandangan demikian tidak konsisten. Sebab, Alam ide yang abdi lagi sempurna, letak asal mula eksistensi jiwa mengalami perubahan dengan turunnya ke tubuh fisik. Hal demikian mengandaikan terjadinya perubahan dalam keabdian (ketetapan).

Lebih jauh lagi, asumsi dunia ide sebagai sumber kebenaran tunggal membuat Teori Plato menutup ruang empiris dan perkembangan ilmu alam (Sains). Padahal, pengetahuan tumbuh dari interaksi manusia dengan realitas yang terus berubah.

Dalam hal ini justru, akal tidak hanya berfungsi untuk mengingat kembali, melainkan menangkap makna eksistensial suatu kenyataan. Akal menjadi alat membangun jembatan antara dunia empiris dan realitas metafisis. Bukan untuk melarikan diri dari dunia materi.

Dengan demikian, pemikiran Plato bukan sekadar bantahan konseptual, melainkan koreksi terhadap dasar epistemologinya. Teori Plato telah memutus hubungan antara pengetahuan dan wujud.

Kerja akal bukanlah nostalgia metafisik terhadap dunia ide, melainkan keterlibatan aktif dalam memahami realitas yang konkret dan transenden.

Melalui penekanan ini, kesempurnaan jiwa tidak terletak pada pelariannya dari dunia. Namun, kemampuan jiwa dalam memahami dunia sebagai jalan menuju kebenaran.

Jiwa bukanlah entitas yang jatuh dari surga ide, melainkan kesadaran yang tumbuh di tengah realitas di mana pengetahuan bukan hasil ingatan masa lampau, tetapi hasil dari pertemuan antara akal dan eksistensi.

Fijar David S.Pd

Santri Kelas Falfatuna 100 Sesi 2025-2026

(PPM Muthaharri Yogyakarta)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *