Dari Gambaran ke Kebenaran: Konsepsi dan Penilaian yang benar

Refleksi SESI 2 Falsafatuna

Dalam struktur pengetahuan, konsepsi (tasawwur) dan penilaian (tasdiq) merupakan dua unsur utama dasar terbentuknya pemikiran manusia. Keduanya merupakan tahapan fundamental proses berpikir. Konsepsi menjadi langkah awal sebelum manusia sampai pada tahap menilai benar atau salahnya suatu pernyataan.

Secara sederhana, konsepsi merupakan  suatu gambaran yang hadir di dalam benak kita mengenai sesuatu, tanpa disertai dengan penetapan benar atau salah.

Misalnya, ketika seseorang mendengar kata “pohon,” muncul dalam pikirannya suatu gambaran tentang bentuk pohon yang meliputi batang, daun, dan sifat-sifatnya.

Pada tahap ini, pikiran belum menentukan apakah keberadaan pohon itu benar atau salah; ia hanya menyusun representasi (cerminan) mental dari sesuatu yang disebut “pohon.”

Artinya, konsepsi merupakan tahap pembentukan ide. Ia adalah aktivitas intelektual untuk menata pengalaman inderawi atau intuisi menjadi citra mental yang dapat dipikirkan manuska. Kemudian, akal bekerja dalam imajinasinya untuk menganalisis dan membentuk pengertian dasar tentang suatu objek.

Konsep air, keadilan, kehidupan, atau jiwa semuanya muncul sebagai hasil dari kemampuan manusia mengabstraksikan pengalaman menjadi ide-ide yang dapat dipahami. Namun, pada tahap ini, belum ada kriteria kebenaran mengenai konsep tersebut.

Contoh lain, konsep ‘naga,’ bisa hadir di benak manusia dengan sangat jelas, meskipun tidak memiliki dasar realitas empiris. Hal ini menunjukkan bahwa konsepsi adalah wilayah representasi, bukan validasi.

Ia membentuk pemahaman awal yang memungkinkan manusia untuk berpikir, berdialog, dan menyusun pengetahuan, tetapi belum menetapkan nilai kebenaran dari apa yang dipahami.

Barulah pada tahap penilaian (tasdiq), akal mulai menentukan apakah gambaran tersebut sesuai dengan realitas atau tidak. Penilaian merupakan proses pembenaran atau penyangkalan terhadap suatu proposisi, di mana kriteria kebenaran mulai diterapkan. Maka, pengetahuan sejati hanya lahir ketika konsepsi yang telah terbentuk diuji melalui penilaian rasional.

Dengan demikian, konsepsi berfungsi sebagai landasan awal bagi setiap bentuk pengetahuan. Tanpa konsepsi, akal tidak memiliki bahan untuk dinilai. Tanpa penilaian, konsepsi tidak akan berkembang menjadi pengetahuan yang benar.

Dalam kerangka ini, aktivitas intelektual manusia dapat dipahami sebagai perjalanan dari gambaran menuju pembenaran, dari ide menuju pengetahuan.

Kesadaran akan posisi konsepsi dalam struktur pengetahuan juga mengingatkan kita bahwa berpikir bukan hanya soal benar atau salah, melainkan terlebih dahulu memahami bagaimana gambaran itu terbentuk dalam pikiran kita.

Sebab, setiap pengetahuan bermula dari bagaimana manusia mengonsepkan dunia, sebelum akhirnya ia menilai dunia.

Fijar David S, Pd

Santri Kelas Falsafatuna 100 Sesi 2025-2026

(PPM Muthahhari Yogyakarta)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *