Dalam setiap diri manusia tersembunyi tiga kekuatan jiwa (potensi) yaitu hawa nafsu, fitrah, dan akal. Dalam tragedi Karbala, ketiganya tergambarkan secara simbolik melalui tokoh-tokoh penting dalam hal ini Yazid mewakili hawa nafsu yang menindas, Al-Hur mencerminkan fitrah yang bersih, dan Imam Husein as adalah simbol akal yang suci dan tercerahkan.
Kisah Al-Hur, beserta putra dan saudaranya, merupakan cerminan dari fitrah manusia. Fitrah ini dapat tumbuh dan berkembang tergantung pada arah bimbingan yang diterimanya. Ketika fitrah dikendalikan oleh hawa nafsu (Yazid), ia akan cenderung mengambil keputusan berdasarkan dorongan sesaat yang emosional dan tidak stabil. Sebaliknya, jika fitrah dibimbing oleh akal (Huseini), maka ia akan menghasilkan tindakan yang matang, konsisten, dan bernilai sejati. Akal menjadi pembimbing yang membangun tekad dengan berlandaskan pada keseimbangan jiwa, bukan semata-mata pada dorongan duniawi.
Al-Hur awalnya berada di pihak Yazid, bahkan menjadi salah satu yang menggiring Imam Husein as ke Karbala. Namun, di tengah tragedi, suara akal (Husaini) membimbing dan menggugah kembali kesadaran fitrahnya. Ia pun berbalik arah melawan kezaliman dan menegakkan keadilan meski harus mengorbankan hidupnya. Ini menunjukkan bahwa fitrah manusia, ketika disentuh oleh kebenaran yang sejati, akan merespon dan cenderung kepadanya.
Namun, dalam kehidupan nyata, meski kebenaran telah nyata, kita tetap menolak untuk tunduk padanya. Mengapa? Karena fitrah kita telah tertawan oleh hawa nafsu, dan kita terlalu takut untuk membebaskan diri dari belenggu itu, takut pada penderitaan, kehilangan, atau tekanan duniawi. Inilah dilema besar dalam jiwa kita.
Karena itulah, susunan jiwa kita sangat kompleks dan membutuhkan bimbingan logika yang benar. Kita harus menciptakan “Al-Hur” dalam diri, yaitu fitrah yang sadar dan siap menerima kebenaran. Kita juga harus menundukkan “Yazid,” yakni hawa nafsu yang menyesatkan. Dan yang terpenting, kita harus menjaga “Huseini” dalam diri kita yakni akal yang jernih dan tercerahkan, sebagai fondasi dalam membangun kehendak yang berlandaskan akhlak mulia.
Perjalanan spiritual manusia adalah perjuangan untuk menyelaraskan ketiga daya ini. Dengan membimbing fitrah melalui akal yang tercerahkan dan menundukkan hawa nafsu, barulah kita bisa menginjakkan kaki untuk jalan menuju akal suci, yaitu ketakwaan yang melahirkan sebuah tekad dan kesadaran tertinggi dalam penyembahan kepada Allah Swt.
Dalam perenungan kisah ini saya menemukan makna dalam kisah Karbala. Ternyata, peristiwa itu bukan hanya sejarah yang terjadi di tanah karbala, tapi juga cerminan dari pertarungan yang berlangsung setiap hari di dalam diri.
Yazid, Al-Hur, dan Imam Husein as mereka bukan hanya tokoh sejarah. Mereka adalah gambaran dari tiga kekuatan dalam jiwa. Yazid adalah hawa nafsu, dorongan dalam diri yang terus membujuk untuk memilih yang mudah, menyenangkan, dan instan meskipun tidak benar. Ia muncul saat ingin menghindari tanggung jawab, saat ingin menuruti amarah, dan saat mencari validasi dari orang lain dengan cara yang salah.
Lalu ada Al-Hur sebagu fitrah. Sisi batin yang masih bisa merasakan, masih memiliki kepekaan akan benar dan salah. Tapi kita sadar, fitrah ini rapuh. Ia tidak berdiri sendiri. Ia bisa ikut kemana pun kita condongkan diri, bisa ke arah hawa nafsu, atau ke arah akal.
Dan akhirnya, ada Imam Husein as sebagai simbol dari akal sejati dalam diri. Ia hadir sebagai pengingat yang tenang namun tegas. Ia tak memaksa, tapi selalu menunjukkan arah. Sayangnya, kita sering mengabaikannya. Kitaa mendengarnya, tapi tidak mengikutinya. Karena mengikuti akal berarti siap menahan diri, bersabar, dan berani menanggung konsekuensi. Dan itu tidak selalu mudah.
Dan sekarang seharusnya semakin hari semakin kita sadar bahwa mendidik jiwa. Bukan hanya dengan pengetahuan, tapi dengan keberanian untuk bertindak sesuai kebenaran, meski konsekuensinya itu menyakitkan. Kita senantiasa menjaga agar fitrah kita tetap hidup, menundukkan hawa nafsu, dan memberi ruang bagi akal untuk membimbing.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang menjadi paling sempurna, tapi tentang berusaha setia pada kebenaran di dalam diri, meski jalannya tidak mudah. Dan itu adalah bentuk kecil dari Karbala yang harus kita menangkan setiap hari
Wallahualam bishawab.
Nahira
Santriwati kelas Takhassus RCF-RCRF 2025