Refleksi SESI 1 Kelas Falsafatuna
Dalam pertemuan sesi ini, saya mulai menyadari mengenai pertanyaan mendasar dalam filsafat bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, melainkan bagaimana proses kita bisa mengetahui sesuatu.
Pembahasan tentang sumber pengetahuan membuka kesadaran bahwa pengetahuan tidak lahir begitu saja melalui pengalaman empiris atau akal semata. Melainkan, pengetahuan dibentuk melalui proses kesadaran intelektual yang teratur dan berjenjang.
Dari penjelasan sesi pengantar, pengetahuan tidak pernah lepas dari proses mentasawur (menggambarkan) dan mentasdik (menilai) sesuatu. Pada sesi ini kita kembali diajak merefleksikan pertanyaan paling dasar dalam filsafat.
Bagaimana cara kita mengetahui? Pertanyaan ini bagi sebagian kita terlihat sederhana. Namun, dari hal sederhana ini justru menggetarkan akal dan kesadaran kita. Sebab, pertanyaan itu mencoba menyingkap rahasia sumber pengetahuan yang bukan datang begitu saja, melainkan timbul dari proses panjang antara realitas, pengalaman, dan akal.
Mengetahui bukan sekedar menerima informasi dari luar, melainkan kegiatan aktif dari akal dalam mengkonsepsi, menilai, dan memberi makna terhadap apa yang diterima oleh pancaindra. Disini kita menyadari bahwa peran akal menjadi pusat proses pengetahuan.
Akal bukan hanya wadah tetapi sumber daya internal yang mampu menata, menghubungkan dan mengarahkan pemahaman menuju kebenaran. Kita mulai menyadari bahwa pengetahuan yang kita miliki tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui tahapan-tahapan tertentu.
Tahapan pertama dikenal dengan tasawwur, yaitu tahap ketika akal membentuk gambaran atau konsep dari sesuatu yang kita ketahui. Misalnya, ketika memahami konsep air disini saya belum menilai benar atau salahnya, tetapi baru membentuk citra intelektual tentangnya.
Kemudian, kita memasuki tahapan tasdiq. Dalam tahapan ini, akal melakukan penilaian terhadap kebenaran atau kepalsuan suatu konsep. Contoh perihal konsep air, apakah “air dapat mengalir,” itu benar atau tidak. Ketika kedua tahap ini bekerjasama; antara konsepsi dan penilaiannya, pengetahuan tidak lagi menjadi kumpulan informasi, tetapi berubah menjadi struktur intelektual.
Struktur intelektual merupakan susunan pemahaman yang saling terhubung secara logis di dalam akal manusia. Struktur inilah yang akan membentuk cara berpikir seseorang, menentukan bagaimana menilai sesuatu dan bagaimana kita melihat realitas di sekitar.
Namun, pengetahuan pun tidak hanya berhenti pada struktur berfikir manusia. Ketika struktur intelektual manusia itu semakin berkembang, konsep- konsepnya tersusun rapi, penilaiannya semakin tajam, dan hubungannya antar gagasan semakin kuat, kemudian akan membentuk sistem pengetahuan.
Sistem pengetahuan manusia menjadi bentuk tertinggi tatanan akal, dimana setiap pengetahuan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan saling menopang dan menjelaskan satu sama lain dalam sistem pengetahuan.
Dalam sistem pengetahuan, seseorang tidak hanya tau suatu hal, tetapi memahami keterkaitannya dengan hal-hal lain. Disinilah sistem pengetahuan menjadi pedoman hidup, menjadi dasar dalam berpikir ilmiah, filosofis, bahkan spiritual
Agus, S.I.Kom
Santri Kelas Falsafatuna 100 sesi 2025-2026
(PPM Muthahhari Yogyakarta)





