Model Advokasi Pergerakan Sosial Imam As-sajjad as dan Ali Syariati
sumber: https://id.pinterest.com/pin/613685886762975710/

Setelah peristiwa karbala, Imam Ali Zainal Abidin bin Husein atau Imam Asajjad berada dalam situasi yg sendiri, tidak ad massa. Bahkan keluarga yang menjadi tumpuan Imam telah banyak yang syahid di karbala. Setelah peristiwa karbala, Imam Asajjad menjadi tumpuan dari pengikut imam husein yg masih hidup yakni para perempuan janda dan anak-anak yatim. Yang saya bayangkan sebelum imam melakukan tindakan advokasi untuk masyarakat, beliau akan selalu memikirkan ada apa dengan ummah, mengapa bisa terjadi kejadian yang begitu memilukan pada Imam husein dan pengikutnya? Apa yang harus beliau lakukan untuk memperbaiki ummat disaat beliau tidak memiliki massa, darimana beliau memulainya ditengah tekanan penguasa yg sangat membenci keluarga Ahlul Bait Nabi dan pengikutnya.

Peristiwa Karbala tidak membuat imam membalas dendam, dan menyulutkan emosi, namun menjadi refleksi untuk memperbaiki moral dan menambah kapasitas moral beliau di dalam masyarakat yang moralnya sudah sangat rusak.

Moral imam dijadikan sebagai perlawanan kepada musuh dan pendidikan untuk masyarakat. Karbala adalah refleksi dimana nafsu hewani telah menguasai diri manusia maka perlawanan yang dilakukan imam adalah meningkatkan aktivitas ibadah (penyembahan), bermunajat dengan doa-doa untuk memerangi hawa nafsu hewani yang telah merusak masyarakat. Doa merupakan alat perlawanan imam sajjad untuk menyelamatkan masyarakat.

Imam husein menyadarkan ummat dan memberikan kesempatan untuk bertobat, dan imam sajjad membimbing ummat untuk kembali ke jalan yang benar melalui penyembahan (ibadah), melakukan peperangan terhadap hawa nafsu. Melalui penyembahan manusia dapat menemukan kembali kemuliaannya. Imam tidak pernah mengambil wilayah politik melainkan kultur budaya dengan memberikan pelayanan kepada ummah, imam tidak pernah tergiur pada kekuasaan karena bagi imam kemuliaan hanya ditujukan untuk allah Swt. Tergiur pada dunia adalah kehinaan diri.

Peran-peran imam selalu ditujukan untuk masyarakat, bahkan setelah beliau meninggal ada 100 keluarga yang telah bertumpu pada imam Assajad. Imam dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tidak ingin diketahui oleh masyarakat, setelah meninggalnya imam sajjad, masyarakat baru mengetahui jika punggung beliau yg lebam karena digunakan mengangkat gandum di malam hari untuk diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Imam memperbaiki masyarakat melalui moral beliau dan melalui ibadah (Penyembahan), beliau mendidik masyarakat melalui kultur kesadaran untuk memperbaiki diri sehingga masyarakat bisa menjadi lebih baik.

Sehingga ruang advokasi imam assajad adalah melalui moral, mengenalkan mana yang mulia mana yang hina, dan manakah yang seharusnya diperangi, imam berangkat dari diri penyembahan untuk mengabdi/melayani masyarakat. Pelayanan imam kepada masyarakat tidak melalui ruang-ruang kekuasaan melainkan dari masyarakat (kultur).

Gambaran diri imam seperti apa, terlihat dari cara beliau berdoa, dalam berdoa-pun imam mengedepankan moral beliau untuk ummat ketika menghadap allah Swt.

Dalam mengadvokasi gerakan sosial di masyarakat, Syariati juga berangkat dari kultur bukan dari struktur. Dari sekian jalan politik yg tersedia syariati memilih menggunakan ruang-ruang penyadaran bukan ruang politik struktur untuk melawan struktur penguasa yg dzalim (pahlevi).

Sebelum kembali ke Iran, ia juga merefleksikan darimana ia memulai pembebasan sosial di masyarakat/ cara mengadvokasi masyarakat. Ia mengidentifikasi masyarakat iran dan dengan apa pembebasan dilakukan? Ia merefleksikan tidak mungkin pembebasan iran bisa berhasil jika menggunakan idiologi marxisme karena masyarakat Iran berasal dari kultur yg menjunjung Islam Ahlul bait Nabi, sehingga kultur yg sesuai dengan masyarakat Iran adalah Islam Ahlulbait Nabi. Syariati ketika di Prancis sebelum kembali ke iran melakukan riset apakah sesungguhnya islam melalui teks-teks keagamaan.

Syariati menemukan Islam banyak yg disimpangkan oleh ulama dibawah rezim Pahlevi, Syariati kembali dengan membawa Islam progresif yg ia temukan dan menyebut ulama Islam Syiah yang menafsirkan agama secara stagnan dengan sebutan Syiah Safawi (melayani penguasa).

Syariati kembali ke Iran melalui ruang-ruang penyadaran pada masyarakat elit (mahasiswa/pemuda) yg kemudian dari para mahasiswa atau pemuda diharapkan bisa menyebarkan kepada masyarakat yg lain, tetangga dan orang-orang terdekat mereka. Ruang advokasi yg Syariati gunakan adalah ruang penyadaran pada elit (mahasiswa/pemuda) untuk mengawal masyarakat yg lebih luas. Membangun kultur dari proses penyadaran masyarakat untuk melawan struktur penguasa yg dzalim pd masyarakat.

Dalam konteks ke-Indonesia-an mungkin kita perlu merefleksikan darimna kita memulai mengadvokasi masyarakat? Syariati menggunakan Rausyan Fikr (intelektual tercerahkan) untuk mengawal masyarakat, RausyanFikr bisa dikatakan sebagai elit intelektual, elit memiliki posisi yg begitu penting dalam masyarakat, elit intelektual yg sedikit namun sebagai tumpuan kesadaran masyarakat.

Karbala membawa arti penting keluarga sebagai ruang keberlanjutan sejarah dari perjuangan Imam Husein dilanjutkan oleh Imam Ali Zainal Abidin dan Zainab Al kubro, Namun elit intelektual yg sadar juga adalah ruang yang penting dalam memasuki kesadaran masyarakat dari kebijakan Struktural politik yg merampas hak masyarakat. Sehingga keluarga dan elit intelektual sangat dibutuhkan dalam ruang advokasi menyadarkan masyarakat akan haknya, dan hak orang lain.

Ulinnuha, M.A

Santriwati Kelas Takhassus RCF-RCRF 2025

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *